Metode Stimulasi dan Perkembangan Emosi Anak Usia Dini

Metode Stimulasi dan Perkembangan Emosi Anak Usia Dini 

Masa1 usia dini merupakan “golden age period”, artinya merupakan masa emas untuk seluruh aspek perkembangan manusia, baik fisik, kognisi emosi maupun sosial. Salah satu aspek perkembangan yang penting bagi anak usia dini adalah aspek emosi. Merangkum pendapat Goleman, Izard dan Ackerman, Le Doux, (Hansen & Zambo 2007) emosi adalah perasaan yang secara fisiologis dan psikologis dimiliki oleh anak dan digunakan untuk merespons terhadap peristiwa yang terjadi disekitarnya.Emosi bagi anak usia
dini merupakan hal yang penting, karena dengan emosi anak dapat memusatkan perhatian, dan emosi memberikan daya bagi tubuh serta mengorganisasi pikir untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Lebih lanjut Hansen dan Zambo (2007) menjelaskan tentang contoh fungsi emosi dalam kehidupan anak usia dini, misal:
takut adalah salah satu emosi yang digunakan untuk ”survival”. Pada saat emosi takut muncul pada anak, maka anak menjadi sadar terhadap lingkungan dan menimbulkan sikap hati-hati pada diri anak. Senyum merupakan ekspresi emosi senang, dengan senyum anak akan mampu memberikan tanda kepada sekitarnya tentang situasi yang dialami dan kebutuhan untuk melakukan hubungan antar pribadi. Singkat kata emosi membantu anak sepanjang waktu untuk bertahan dan berkomunikai dengan lingkungan. Emosi berkembang sepanjang waktu, emosi pada anak usia dini berkembang dari yang sederhana menjadi ke suatu kondisi yang lebih kompleks. Emosi berkembang sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.

Menurut Bronfenbreuner (Santrock, 2006) ada sejumlah sistem yang berpengaruh terhadap perkembangan anak yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem dan kronosistem. Salah satu sistem yang paling kuat dan langsung pengaruhnya terhadap perkembangan anak adalah mikrosistem. Adapun yang dimaksud dengan lingkungan mikro oleh Bronfenbreuneur adalah situasi lingkungan yang menyebabkan anak dapat melakukan kontak langsung dan saling mempengaruhi. Lingkungan mikro mempunyai peran khusus dalam perkembangan anak, karena dalam mikrossitem ini terdapat unsur orangtua, guru dan juga mencakup kuantitas.dan kualitas pengasuhan.

Anak berkembang melalui interaksi dengan lingkungan. Salah satu lingkungan yang berperan adalah orang tua. Namun pada tahun terakhir jumlah orang tua terutama ibu yang bekerja semakin meningkat; pada saat yang bersamaan muncul kelompok atau lembaga yang menyelenggarakan pendidikan di luar rumah untuk anak usia dini. Kondisi ini seolah gayung bersambut dengan kebutuhan orangtua untuk tetap dapat mendapatkan cara yang dianggap sesuai untuk perkembangan anak. Orang tua berharap bahwa di Taman Kanak-kanak (TK) anak akan mendapatkan stimulasi yang memadai bagi perkembangan anak. Pada lingkungan belajar di luar rumah atau di TK, anak akan belajar dan mendapat stimulasi. Melton (dalam Ben-Arieh, et al, 2009) berpendapat bahwa sekolah merupakan lingkungan utama bagi proses perkembangan anak, dan berperan dalam menciptakan kegiatan untuk kesejahteraan anak. Namun pada kenyataannya tidak semua anak mendapatkan perkembangan yang optimal, bahkan anak mengalami developmental delay atau developmental problems.

Lickona (dalam Woolfolk, 2006) mengatakan bahwa variasi dalam situasi akan menghasilkan variasi dalam perilaku. Suasana yang dibangun dalam satu situasi yang mendekati kehidupan yang sebenarnya, dapat menyebabkan anakmenjadi kaya akan pengalaman. Anak tidak saja berpikir dan bertindak dari sisi kognitifnya saja, namun juga menggumenjadi kaya akan pengalaman. Anak tidak saja berpikir dan bertindak dari sisi kognitifnya saja, namun juga menggukembang secara optimal menjadi manusia seutuhnya (secara horisontal dan vertikal). Anak belajar melalui berbagai cara antara lain melalui imitasi, melakukan sesuatu atau mencoba dan mengalami

(Einon, 2005). Lingkungan menyediakan sesuatu yang dibutuhkan anak, dan anak akan memanfaatkan apa yang ditawarkan oleh lingkungan. Orang dewasa dapat melatih, menjelaskan, dan mengoreksi anak, atau menunjukkan sesuatu kepada anak. Oleh karena itu yang dapat dilakukan adalah membantu anak untuk melibatkan dan mendorong anak untuk mencoba dan mengalami. Anak mempunyai bakat atau kemampuan yang telah dibawa sejak lahir, namun bakat atau kemampuan tersebut tidak akan berkembang apabila tidak memperoleh rangsangan dari lingkungannya Pendidikan anak usia dini merupakan suatu bentuk stimulasi yang pada dasarnya adalah upaya-upaya intervensi yaitu menciptakan lingkungan sekitar anak usia dini agar mampu menstimulasi seluruh aspek perkembangan anak. Intervensi merupakan sejumlah informasi yang
diatur melalui pembelajaran tertentu untuk pertumbuhan, perkembangan maupun perubahan perilaku.

Menurut Mashar (2007), mengutip pendapat Foot et al mengatakan bahwa anak yang mengalami
hambatan ataupun problema perkembangan, tidak akan berkembang secara optimal. Terjadinya problema dalam perkembangan emosi pada anak usia dini salah satunya dipengaruhi oleh guru. Penelitian Mashar (2007) menunjukkan bahwa guru yang telah dilatih untuk mendampingi anak, ternyata anak mampu berperilaku dengan baik. Penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2009) juga menunjukkan bahwa guru yang dilatih dapat meningkatkan kemampuan berkoberperilaku dengan baik. Penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2009) juga menunjukkan bahwa guru yang dilatih dapat meningkatkan kemampuan berkobangan anak, yang artinya harus melibatkan caring and education. Perubahan paradigma ini berakibat dalam cara memperlakukan anak, termasuk dalam memberikan stimulasi. Anak tidak berkembang secara otomatis, namun dipengaruhi oleh cara lingkungan memperlakukan mereka. Ketika anak memasuki lingkungan ”sekolah” non formal seperti taman kanak-kanak, maka ruang dan kesempatan untuk berinteraksi semakin luas. Stimulasi yang diberikan oleh guru termasuk yang berpengaruh. Cara guru memberikan stimulasi terhadap anak adalah tergantung pada pemahaman guru terhadap stimulasi dan permahaman
terhadap anak. Menjadi guru yang baik, berarti seseorang harus bersedia dan mampu mengenali siapa anak didiknya. Pengenalan terhadap anak merupakan hal yang penting, karena setiap anak adalah unik

(Pearsons & Sardo, 2006). Namun kenyataan menunjukkan bahwa pada umumnya guru mengabaikan tentang keunikan anak. Bagi guru lebih mudah memberikan pendidikan yang sama dan adil menurut konsep guru, dengan kata lain guru tidak memperhatikan kebutuhan anak.

Menurut Ormrod (2003) guru cenderung menuntut siswa untuk menurut atau taat dengan menunjukkan perilaku yang baik di mata guru sebagai akibatnya anak akan mendapat stimulasi dengan cara yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, dan pada gilirannya akan memunculkan terjadinya problema perkembangan, Anak berkembang dalam lingkungan yang beragam.

Goldin–Meadow (2008) menyatakan bahwa lingkungan akan mempengaruhi anak dalam berbagai hal, antara lain akan berpengaruh terhadap bagaiamana seorang anak berkembang dan belajar dari lingkungan. Kualitas dan kuantitas pengasuhan terhadap anak usia dini ini menurut M√∂nks, Knoers, dan Haditono (2004), berkait dengan pemberian stimulasi. Pemberian stimulasi harus sesaui dengan kebutuhan anak, anak yang mendapat stimulasi yang berlebih atau kurang, akan menyebabkan anak mengalami problema perkembangan. Problema perkembangan dapat terjadi karena pemberi stimulasi tidak paham tentang capaian perkembangan.

Santrock (2006) menjelaskan bahwa pada pendidikan anak usia dini dimasa sekarang telah mengalami pergeseran paradigma. Capaian perkembangan dalam pengembangan anak usia dini merupakan yang utama. Berarti pemberian stimulasi adalah berdasarkan pada pengetahuan terhadap tipikal perkembangan anak atau berkait dengan keunikan anak, tidak lagi berdasar pada sudut kepentingan orangtua atau guru. Oleh karena itu bagaimana pemahaman guru tentang pemahaman terhadap stimulasi dan aspek perkembangan anak merupakan suatu hal yang penting untuk diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman guru terhadap

cara memberikan stimulasi untuk perkembangan emosi anak usia dini.Adapun pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut
1. Bagaimana pemahaman guru tentang stimulasi ?
2. Bagaimana pengertian guru tentang perkembangan emosi anak usia dini?
3. Apa yang dilakukan untuk menstimulasi perkembangan emosi anak?

Metode 

Subjek penelitian 

Pada penelitian ini sejumlah 30 orang guru TK menjadi subjek penelitian. Guru yang menjadi subjek penelitian berjenis kelamin perempuan, dengan latar belakang pendidikan yang bervariasi. Ada guru yang latar belakang pendidikannya SMA, SPG, dan Sarjana. Pengalaman menjadi guru TK cukup bervariasi, 
minimal telah berpengalaman lima tahun dan paling lama 33 tahun. Subjek penelitian adalah guru dari tiga TK yang berada di Kota Yogyakarta, mereka semua mengampu kelas, yang dalam setiap kelas terdiri 12 anak sampai dengan 25 anak. Cara pengumpulan data Data dikumpulkan melalui; 

1. Wawancara. 
Untuk memperoleh informasi tentang pemahaman guru terhadap cara stimulasi dan perkembangan emosi anak, digunakan wawancara: secara individual terhadap guru. Wawancara dilakukan berdasarkan panduan wawancara yang telah disusun. 

2. Observasi 
dilakukan untuk memperoleh data tentang perilaku dan kegiatan subjek dalam proses pembelajaran dan pemberian stimulasi yang dilakukan di kelas. Observasi data ini digunakan juga untuk checking terhadap hasil wawancara dan self report.3. Self report. Self report dilakukan dengan serangkaian pertanyaan yang bersifat terbuka, sehingga diperoleh informasi yang original berasal dari subjek penelitian. 

Panduan wawancara, observasi dan self report disusun mengacu pada Developmental Appropriateness Practices dari NAEYC atau The National Association for the Education of Young Children (Puckett & Diffily 2004 dan Santrock, 2006). Developmental Appropriateness Practices (DAP) merupakan ”green book” yang disusun untuk membantu pihak yang menyesun untuk membantu pihak yang menyepingan untuk mperkembangan emosi anak usia dini atau komponen strategi pembelajaran, dan perencanaan untuk menyediakaan kegiatan yang bervariasi sehingga anak mempunyai pengalaman atau komponen arahan/pengelolaam emosi. Adapun yang dimaksud oleh ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut
(1) Komponen tujuan kurikulum yang dimaksud adalah apakah anak diberi kesempatan untuk mengalami stimulasi semua aspek perkembangan baik fisik, emosi, kognitif ataupun sosial ataukah hanya dipusatkan pada pemberian pengalaman dari aspek kognitif saja, evaluasi terhadap anak dilakukan berdasarkan keunikan dari masing masing anak ataukah dievaluasi berdasarkan norma kelompok dan dituntut untuk menunjukkan kemampuan serta ketrampilan yang sama. Komponen ini digunakan untuk melihat pemahaman guru tentang stimulasi sarkan norma kelompok dan dituntut untuk menunjukkan kemampuan serta ketrampilan yang sama. Komponen ini digunakan untuk melihat pemahaman guru tentang stimulasi 

(2) Komponen strategi pembelajaran mencakup cara guru mendorong terciptanya pembelajaran aktif danm memfasilitasi lingkungan yang memungkinkan anak untuk melakukan eksplorasi di 
lingkungannya. Komponen ini dapat digunakan untuk mengungkap cara yang dilakukan oleh guru untuk menstimulasi perkembangan emosi anak 

(3) Komponen Pengelolaan/arahan untuk perkembangan emosi dan sosial melingembangkan ketrampilan emosi dan sosial. Melalui komponen ini dapat dilihat pengertian guru tentang perkembangan emosi anak usia dini 

Prosedur pelaksanaan 

Pelaksanaan penelitian dilakukan melalui tahap persiapan yang meliputi penentuan, penyusunan pedoman wawancara dan self report. Subjek diperoleh dengan mendatangi beberapa TK yang ada di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Berdasarkan kesediaan mereka terpilih 30 orang guru TK. Setelah itu dilakukan pelaksanaan penelitian dengan menggunakan wawancara untuk mengumpulkan informasi tentang pengertian guru terhadap capaian perkembangan emosi anak usia dini, dan tentang cara memberi stimulasi pada anak. Selain itu dilakukan pula pengisian self report untuk mengumpulkan informasi tentang pemahaman guru terhadap stimulasi emosi, bentuk dan cara memberikan stimulasi. Setelah data terkumpul dilakukan analisis 
Metode analisis data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Analisis dilakukan dengan pendekatan fenomenologis, observasi dan self report. Data yang terkumpul diidentifikasi berdatif. Analisis dilakukan dengan pendekatan fenomenologis, observasi dan self report. Data yang terkumpul diidentifikasi berda


PEMBENTUKAN KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA

Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia harus dipandang sebagai sebuah kekayaan bukan kemiskinan. Bahwa Indonesia tidak memiliki identitas budaya yang tunggal bukan berarti tidak memiliki jati diri, namun dengan keanekaragaman budaya yang ada membuktikan bahwa masyarakat kita memiliki kualitas produksi budaya yang luar biasa, jika mengacu pada pengertian bahwa kebudayaan adalah hasil cipta manusia.

Kebudayaan atau budaya menurut Bapak Antropologi Indonesia, Koenjtaraningrat (1996), adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Pengertian tersebut merujuk pada gagasan J. J Honigmann (1973) tentang wujud kebudayaan atau disebut juga ‟gejala kebudayaan‟. Honigmann membagi kebudayan kedalam tiga wujud, yakni kebudayaan dalam wujud ide, pola tindakan dan artefak atau benda-benda.

Mengacu pada konsep diatas, jika dikembalikan pada realita yang ada di kehidupan bangsa Indonesia, kiranya kita bisa memilah setiap wujud kebudayaan yang ada, minimal dari yang kita temui setiap harinya. Sejalan dengan itu, kemudian akan muncul pertanyaan klasik ”apakah ada yang namanya budaya Indonesia?”


Ada beberapa budaya besar (bukan dalam konteks baik dan buruk) yang terkait dan selalu dikaitkan dengan kebudayaan Indonesia dalam pencariannya, yakni istilah budaya timur, dominasi sebuah budaya lokal dan pengaruh Islam sebagai agama mayoritas. Pengaitan itu pada dasarnya bukan mengarah kepada pencarian jawaban atas apa yang dimaksud dengan kebudayaan nasional, tetapi lebih cenderung menjadi sesuatu yang dipaksakan sebagai turunan dari kepentingan ideologis, yang kemudian mengatasnamakan integrasi nasional.

Blog ini akan membahas tentang proses terbentuknya kebudayaan Indonesia dimulai dari awal keberadaan kebudayaan Indonesia, pluralisme masyarakat dan proses pembentukan kebudayaan Indonesia.

PEMBENTUKAN KEBUDAYAAN INDONESIA
Kebudayaan atau culture adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Ruth Benedict (1934) melihat kebudayaan sebagai pola pikir dan berbuat yang terlihat dalam kehidupan sekelompok manusia dan yang membedakannya dengan kelompok lain. Para ahli umumnya sepakat bahwa kebudayaan adalah perilaku dan penyesuaian diri manusia berdasarkan hal-hal yang dipelajari/learning behavior. Kebudayaan juga dapat dipahami sebagai suatu sistem ide/gagasan yang dimiliki suatu masyarakat lewat proses belajar dan dijadikan acuan tingkah laku dalam kehidupan sosial bagi masyarakat tersebut (Koentjaraningrat, 1996). Sedangkan sistem budaya sendiri dapat dikatakan sebagai seperangkat pengetahuan yang meliputi pandangan hidup, keyakinan, nilai, norma, aturan, hukum yang diacu untuk menata, menilai, dan menginterpretasikan benda dan peristiwa dalam berbagai aspek kehidupannya. Nilai-nilai yang menjadi salah satu unsur sistem budaya, merupakan konsepsi abstrak yang dianggap baik dan amat bernilai dalam hidup, yang kemudian menjadi pedoman tertinggi bagi kelakuan dalam suatu masyarakat.

Bertitik tolak dari pemahaman tersebut, konsep kebudayaan Indonesia dibangun oleh para pendahulu kita. Konsep kebudayaan Indonesia disini mengacu kepada nilai-nilai yang dipahami, dianut, dan dipedomani bersama oleh bangsa Indonesia. Nilai-nilai inilah yang kemudian dianggap sebagai nilai luhur, sebagai acuan pembangunan Indonesia. Nilai-nilai itu antara lain adalah taqwa, iman, kebenaran, tertib, setia kawan, harmoni, rukun, disiplin, harga diri, tenggang rasa, ramah tamah, ikhtiar, kompetitif, kebersamaan, dan kreatif. Nilai-nilai itu ada dalam sistem budaya etnik yang ada di Indonesia. Nilai-nilai tersebut dianggap sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah, sebagaimana sifat/ciri khas kebudayaan suatu bangsa Indonesia (Melalatoa, 1997: 102). Konsep kebudayaan Indonesia ini kemudian diikat dalam satu konsep persatuan dan kesatuan bangsa yaitu konsep Bhineka Tunggal Ika.

kebudayaan tidak bisa hanya dilihat dari sisi isi kebudayaan itu sendiri karena keberadaannya tidak terlepas dari banyak faktor lain sehingga kebudayaan itu ada, berlangsung, dan berkembang. Satu faktor penting yang berkaitan dengan kebudayaan adalah masyarakat, tidak akan ada satu kebudayaan tanpa masyarakat, demikian sebaliknya. Sebagai satu bentuk persekutuan hidup , masyarakat itu sendiri adalah konsep dengan dimensi yang luas; meski kita sering menggunakan konsep masyarakat Indonesia, namun dalam kenyataannya kita tidak bisa membayangkan semua orang Indonesia yang berjumlah ratusan juta orang, biasanya yang terbayang hanyalah sekelompok orang-orang Indonesia di sekitar kita saja, di suatu lokasi tertentu. Seorang ahli sosiologi Indonesia, M. M. Djojodigoeno (1965), membedakan antara konsep „masyarakat dalam arti luas‟ dan „masyarakat dalam arti sempit‟; dalam konsep itu, masyarakat Indonesia adalah masyarakat dalam arti luas, dan masyarakat disekeliling kita apakah itu desa atau kota tertentu, maupun masyarakat warga kelompok kekerabatan seperti marga, dadia, atau suku bangsa adalah masyarakat dalam arti sempit.

Satu bentuk keberadaan lain dari masyarakat dalam dimensi yang lebih luas yaitu dalam bentuk bangsa, sepertinya keanekaragaman kebudayaan itu lebih memungkinkan kebedaraannya dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas; bangsa Indonesia pantas disebut sebagai bangsa yang besar karena memang memiliki potensi untuk menjadi besar, tidak saja ditunjang oleh kewilayahan membentang luas, jumlah penduduk yang besar, namun juga sarat dengan keanekaragaman masyarakat dan kebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain, mungkin hanya perbedaan ras saja yang tidak terlalu menyolok dari keanekaragaman di atas.

Secara teoritis sebenarnya sangat sulit untuk mempersatukan berbagai kepentingan yang berbeda dalam satu pedoman nilai yang dijadikan sebagai acuan bersama, masing-masing tinggal di daerah yang berbeda, mempunyai tradisi dan kebiasaan yang berbeda, kebudayaan berbeda, dengan bahasa yang berbeda. Dengan menempuh perjalanan sejarah yang panjang dan melelahkan bangsa Indonesia yang mulanya terdiri dari bangsa-bangsa yang kecil seolah-olah telah dirancang untuk selalu bersama dalam menempuh suka dan duka, sama-sama menanggung derita dibawah dominasi kekuasaan bangsa asing, dan sama-sama berjuang untuk membebaskan diri dari dominasi tersebut , membuat segenap warga yang hidup di sebaran kepulauan Indonesia merasa sebagai satu kesatuan; lahir, tumbuh, dan berkembangnya bangsa Indonesia adalah hasil kesejarahan, keadaan inilah yang menjadi salah satu potensi terbesar dimiliki dari keberadaan bangsa Indonesia. Agaknya tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang dapat mengimbangi kebersatuan dari kebhinekaan yang ada seperti yang terjadi di Indonesia ini; kalau ada orang yang menganggap dirinya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tentu ia akan bangga dengan keadaan ini, dan bila ada yang berbeda dengan itu, patut dipertanyakan warga masyarakat mana dia ?

Keadaan inilah yang menjadi tantangan kita , sebagai warga masyarakat Indonesia sedini mungkin kita harus menyadari arti suatu kehidupan bersama; kita tidak bisa hidup sendiri, kita senantiasa memerlukan orang lain untuk saling bekerja sama - dengan siapapun kita hidup. Terkadang orang lupa atau sengaja melupakan tentang keberadaan dirinya bila dihubungkan dengan orang lain, mereka hanya ingat apa yang seharusnya orang lain berikan pada kita, bukan apa yang seharusnya kita berikan pada orang lain; atau dengan kata lain orang akan selalu ingat tentang fasilitas dan hak dan cenderung mengabaikan apa yang menjadi tugas atau kewajibannya.

Kebudayaan Indonesia : Suatu Proses Awal
A.Timbulnya Rasa Persatuan Bangsa
Indonesia mempunyai sejarah tertulis yang dimulai sejak abad ke-4 M. Pada dasarnya, penduduk Indonesia dianggap terdiri dari masyarakat dengan kebudayaan –kebudayaan sukubangsa lokal yang hanya sedikit berhubungan satu dengan yang lain. Ketika kepulauan nusantara menjadi satu bagian yang integral dalam perdagangan Asia, dengan rute perdagangan yang merentang dari Asia Barat Daya dan Asia Selatan ke Tiongkok, dan ketika pada abad ke-4 dan ke-5 rempah-rempah dari kepulauan Indonesia, seperti merica, cengkeh dan pala, menjadi komoditi penting dalam ekonomi dunia kuno, keterlibatan dalam perdagangan rempa-rempah meningkatkan mobilitas antarpulau di kalangan penduduk nusantara. Mereka yang tinggal di daerah-daerah strategis dalam jaringan perdagangan antarapulau, seperti Sulawesi Selatan, pantai timur dan barat Pulau Jawa, Sumatra Selatan, Malaka dan Aceh, kemudian tampaknya menjadi negara-negara atau kerajaan-kerajaan dagang kecil. Tergantung keadaan, mereka mungkin telah mengalami persaingan keras namun merupakan negara-negara tetangga yang bekerja sama pula. Negara-negara ini terpusat pada kota-kota pelabuhan, dan pada umumnya tidak memiliki daerah pedalaman yang luas maupun penduduk yang padat. Namun negara-negara tersebut mempunyai armada dagang yang besar, yang terdiri dari perahu-perahu bercadik dan dilengkapi dengan layar lebar.

Koentjaraningrat (1993) mengemukakan sekurangnya ada tiga keadaan dalam sejarah nasional di atas yang menggambarkan kesatuan antara negara-negara kecil tersebut yang di masa lalu tidak terlibat konflik antar sukubangsa, dan menyebabkan bangsa Indonesia dan para pemimpin mereka selalu mengacunya dengan tujuan untuk meningkatkan integrasi sukubangsa dan kesatuan nasional masa kini.

1. Dua buah kerajaan Indonesia telah mempersatuan secara sosial ekonomi (mungkin juga politik) negara-negara kecil yang sebelumnya saling bersaing, ialah kerajaan Sriwijaya pad abad ke-7 m dan 8 M, yang pusatnya di Sumatra Selatan, dan kerajaan Majapahit pada abad ke-14 M yang berpusat di Jawa Timur.

2. Seluruh rakyat Indonesia telah mengalami dominasi kolonial kerajaan Belanda dari negara Eropa selama tiga setengah abad, suatu kenyataan yang memberikan mereka rasa penderitaan yang sama.

3. Selama pergerakan nasional untuk kemerdekaan antara tahun 1920-an sampai dengan 1930-an, pemuda Indonesia telah menolak menonjolkan isu kesukubangsaan; dan pada tahun 1928 memilih bahasa dari satu sukubangsa kecil, yaitu bahasa Melayu, dan bukan bahasa-bahasa dari sukubangsa Jawa yang penduduknya paling besar. Pada tanggal 28 Oktober 1928 para perwakilan segenap masyarakat Indonesia yang menyatakan diri sebagai pemuda indoensia yang berikrar sebagai satu bangsa : bangsa Indonesia; satu tanah air : tanah air Indonesia; satu bahasa : bahasa Indonesia.

B.Persebaran Masyarakat dan Budaya di Indonesia
 Keadaan geografis yang membagi wilayah Indonesia atas kurang lebih 3.000 pulau yang tersebar disuatu daerah ekuator sepanjang kurang lebih 3.000 mil dari timur ke barat dan lebih dari 1.000 mil dari utara ke selatan, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap terciptanya pluralitas sukubangsa di Indonesia. Ketika nenek moyang bangsa Indonesia yang sekarang ini mula-mula sekali datang secara bergelombang sebagai emigran dari daerah yang sekarang kita kenal sebagai daerah Tiongkok Selatan pada kira-kira 2.000 tahun sebelum masehi, keadaan geografis serupa itu telah memaksa mereka untuk harus tinggal menetap di daerah yang terpisah-pisah satu sama lain.

Isolasi geografis yang demikian di kemudian hari mengakibatkan penduduk yang menempati setiap pulau atau sebagian dari suatu pulau di Nusantara ini tumbuh menjadi kesatuan sukubangsa yang sedikit banyak terisolasi dari kesatuan sukubangsa yang lain. Tiap kesatuan sukubangsa terdiri dari sejumlah orang yang dipersatukan oleh ikatan-ikatan emosional, serta memandang diri mereka masing-masing sebagai suatu jenis tersendiri. Dengan perkecualian yang sangat kecil , mereka pada umumnya memiliki bahasa dan warisan kebudayaan yang sama. Lebih daripada itu, mereka biasanya mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama, satu kepercayaan yang seringkali di dukung oleh mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat.

Tentang berapa jumlah sukubangsa yang sebenarnya ada di Indonesia, ternyata terdapat berbagai-bagai pendapat yang tidak sama di antara para ahli ilmu kemasyarakatan. Hidred Geertz (1981), misalnya, menyebutkan adanya lebih dari 300 sukubangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan identitas kultural yang berbeda. Skinner, menyebutkan adanya lebih dari 35 sukubangsa menurut kajian induk bahasa dan adat yang tidak sama. Van Vollenhoven (1926), mengemukakan sekurangnya ada 19 daerah pemetaan menurut hukum adat yang berlaku walaupun angka-angka tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan pada puluhan tahun yang lalu; akan tetapi dengan perkiraaan bahwa angka kelahiran dan angka kematian selama ini memiliki rata-rata yang sama bagi kebanyakan sukubangsa yang ada di Indonesia, maka angka-angka tersebut di atas barangkali masih dapat menggambarkan keadaan masa kini.

C.Pengaruh Budaya Asing
Akulturasi adalah perubahan besar yang terjadi dalam kebudayaan sebagai akibat adanya kontak antar kebudayaan yangberlangsung lama. Hal itu terjadi apabila ada kelompok-kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda saling berhubungan secara langsung dan intensif. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan pada salah satu kelompok atau keduanya. Perubahan kebudayaan akibat adanya proses akulturasi tidak mengakibatkan perubahan total pada kebudayaan yang bersangkutan, hal ini disebabkan karena ada unsur-unsur kebudayaan yang masih bertahan, masyarakatpun ada yang menerima sebagian atau mengadakan penyesuaian dengan unsur-unsur kebudayaan yang baru. Sejarah panjang perjalanan hidup masyarakat Indonesia ditandakan dengan banyaknya berhubungan dengan masyarakat asing seperti Cina, India, Persia, Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang; keberadaanmereka ternyata banyak meninggalkan unsur-unsur kebudayaan yang kemudian beberapa darinya diadopsikan dalam budaya lokal.

1.Pengaruh India (Hindu – Budha).
Pengaruh yang pertama kali menyentuh masyarakat Indonesia berupa pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha dari India sejak 400 tahun sebelum masehi. Hinduisme dan Budhaisme, pada waktu itu tersebar meliputi daerah yang cukup luas di Indonesia, serta lebur bersama-sama dengan kebudayaan asli yang telah lama hidup. Namun demikian terutama di pulau Jawa dan pulau Bali pengaruh agama Hindu dan Budha itu tertanam dengan kuatnya sampai saat ini. Cerita seperti Mahabharata atau Ramayana sangat populer sampai sekarang, bahkan pada beberapa sukubangsa seperti Sunda, Jawa, atau Bali, pengaruh cerita-cerita itu sudah dianggap sebagai bagian atau ciri dari kebudayaannya; beberapa film Indonesia ternyata banyak yang berorientasi pada sifat-sifat film India, yaitu antara bernyanyi dan menari; musik dangdut yang demikian populer untuk lapisan masyarakat tertentu, bisa dikatakan berakar dari kebudayaan India. Pengaruh yang paling menonjol dari agama Hindu bisa ditemukan pada masyarakat Bali, walaupun ada sedikit-sedikit perbedaan karena tentunya unsur budaya asli masih dipertahankan, namun pengaruh agama Hindu tertanam kuat pada kepercayaan masyarakat Bali.

2.Pengaruh Kebudayaan Islam
Pengaruh kebudayaan Islam mulai memasuki masyatrakat Indonesia sejak abad ke 13, akan tetapi baru benar-benar mengalami proses penyebaran yang meluas sepanjang abad ke 15. Pengaruh agama Islam terutama memperoleh tanah tempat berpijak yang kokoh di daerah-daerah di mana pengaruh agama Hindu dan Budha tidak cukup kuat. Di daerah Jawa tengah dan Jawa Timur, dimana pengaruh agama Hindu dan Budha telah tertanam dengan cukup kuat, suatu kepercayaan keagamaan yang bersifat sincretic dianut oleh sejumlah besar penduduk di kedua daerah tersebut, dimana kepercayaan animisme-dinamisme bercampur dengan kepercayaan agama Hindu, Budha dan Islam. Pengaruh reformasi agama Islam yang memasuki Indonesia pada permulaan abad ke 17 dan terutama pada akhir abad ke 19 itupun tidak berhasil mengubah keadaaan tersebut, kecuali memperkuat pengaruh agama Islam di daerah-daerah yang sebelumnya memang telah merupakan daerah pengaruh agama Islam. Sementara itu Bali masih tetap merupakan daerah pengaruh agama Hindu.

Harsoyo (1999) menyebutkan bahwa praktik penyebaran agama Islam itu melalui dua proses, yaitu melalui mekanisme perniagaan yang dilakukan oleh orang-orang India dari Gujarat dan orang-orang Persia, dan yang kedua melalui penguasaan sentra-sentra kekuasaan di pulau Jawa oleh orang-orang Pribumi yang telah memeluk agama Islam; dengan proses yang cukup rumit ini tidak mengherankan kalau kemudian terdapat beberapa perbedaan proses penyerapan agama Islam ini di Indonesia. Untuk orang-orang yang tinggal di daerah pesisir agak berbeda dengan orang-orang yang tinggal di pedalaman; untuk orang-orang yang telah kuat memeluk agama Hindu dan Budha agak berbeda dengan orang-orang yang lebih longgar darinya; untuk yang menerimanya dari orang-orang Gujarat agak berbeda dengan pengaruh Persia; bahkan menurut seorang peneliti Amerika tentang kebudayaan-kebudayaan di Indonesia, Clifford Geertz (1982), keberadaan agama Islam pada suatu masyarakat Jawa Tengah itu dilaksanakan menurut tiga lapisan masyarakat, yaitu agama Islam yang hidup pada kelompok bangsawan yang disebutnya sebagai Priyayi, Islam yang hidup pada kelompok rakyat kebanyakan yang disebutnya sebagai Abangan, dan Islam yang hidup pada anggota-anggota kelompok pesantren sebagai pusat pengkajian agama Islam yang disebut Santri.

3.Pengaruh Kebudayaan Barat
Pengaruh kebudayaan Barat mulai memasuki masyarakat Indonesia melalui kedatangan bangsa Portugis pada permulaan abad ke 16, kedatangan mereka ke tanah Indonesia ini karena tertarik dengan kekayaan alam berupa rempah-rempah di daerah kepulauan Maluku, rempah-rempah ini adalah sebagai barang dagangan yang sedang laku keras di Eropa pada saat itu. Kegiatan misionaris yang menyertai kegiatan perdagangan mereka, dengan segera berhasil menanamkan pengaruh agama Katolik di daerah tersebut. Ketika bangsa Belanda berhasil mendesak bangsa Portugis untuk meninggalkan Indonesia pada sekitar tahun 1600 M, maka pengaruh agama Katolik pun segera digantikan oleh pengaruh agama Protestan. Namun demikian, sikap bangsa Belanda yang lebih lunak di dalam soal agama jika dibandingkan dengan bangsa Portugis, telah mengakibatkan pengaruh agama Proterstan hanya mampu memasuki daerah-daerah yang sebelumnya tidak cukup kuat dipengaruhi oleh agama Islam dan agama Hindu, sekalipun bangsa Belanda berhasil menanamkam kekuasaan politiknya tidak kurang selama 350 tahun lamanya di Indonesia.

Dalam proses kontak antara unsur-unsur budaya yang satu dan budaya yang lain, terjadilah saling mempengaruhi (interaksi) antara kebudayaan itu, dalam proses interaksi itulah akan timbul permasalahan tentang perubahan kebudayaan, yaitu makin melemahnya nilai-nilai budaya sendiri. Begitu juga apabila interaksi dengan budaya asing sangat kuat padahal sebenarnya tidak sesuai dengan kepribadian budaya bangsa kita. Dalam konteks modernisasi, suatu keadaan yang sarat dengan peniruan gaya hidup asing, karena orang ingin disebut modern maka mereka tidak segan-segan untuk meniru gaya hidup masyarakat Barat, walau mungkin untuk sebagian besar masyarakat nilai-nilainya dianggap bertentangan.

Pluralisme Masyarakat dan budaya Indonesia
A.Bangsa Indonesia
Persekutuan hidup yang dikenal sebagai bangsa (nation) adalah suatu ikatan solidaritas dan loyalitas antar sesama anggota yang terdiri atas sejumlah besar pelaku yang menganggap diri dan dianggap mewakili suatu persekutuan hidup tertentu, apapun ras, sukubangsa, agama, ideologi politik, dan kewarganegaraannya. Dalam kenyataannya, tidak semua orang yang dianggap orang Indonesia memang menganggap diri orang Indonesia dan sebaliknya; tidak semua orang yang menganggap diri orang Indonesia dianggap orang Indonesia oleh semua orang Indonesia lain. Keadaan demikianlah yang mengakibatkan adanya masalah persatuan dan kesatuan Indonesia.


Konsep Indonesia sendiri, sebenarnya mengacu kepada konsep bangsa negara/ nation- state. Konsep bangsa (nation)merupakan konsep yang berada diantara konsep negara dan masyarakat. Konsep bangsa dibangun atas dasar rasa identitas komunal yang mempunyai sejarah tradisi yang relatif sama dan berelemen utama kebudayaan, yang mendiami unit geografi yang teridentifikasikan/disepakati bersama (David Robertson,1993). Sedangkan nation-state sendiri mengacu kepada konteks dimana ada unit geografi area tertentu sebagai tanah air bagi orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai komunitas, karena mempunyai kebudayaan, sejarah, dan mungkin bahasa serta karakter etnik, yang dibangun oleh sistem politik (David Robertson, 1993). Dalam nation-state ini, konsep kesepakatan mengacu kepada kesepakatan yang bersifat politis. Sebagai suatu bangsa-negara, Indonesia dibangun atas dasar kesepakatan bersama masyarakat yang berdiam dari Sabang hingga Merauke. Suatu masyarakat yang merasa mempunyai kebudayaan, bahasa, etnik karakter, dan sejarah yang relatif sama,
Harsya Bachtiar (1994), seorang ahli Sosiologi Indonesia, mengatakan bahwa bangsa Indonesia memperoleh para anggotanya melalui dua sumber utama , yaitu

  1. suku-suku bangsa pribumi di wilayah Republik Indonesia, dan 
  2. golongan-golongan penduduk yang berasal dari luar kepulauan Indonesia, murni maupun peranakan, yang kemudian menetap di wilayah Republik Indonesia.
Sehingga menjadi kebetulan kelompok-kelompok etnis yang bersepakat tersebut, berada dalam satu kesatuan administrasi kolonial yang sama, yaitu hindia belanda. Sesuatu yang menjadi daya perekat kesatuan bangsa Indonesia ketika itu adalah keseluruhan faktor-faktor teritorial, etnik dan budaya. Mereka disatukan oleh semangat kebangsaan Indonesia ketika merebut kemerdekaan, hingga kemudian merdeka. Semangat kebangsaan yang bersifat obyektif ( kewilayahan, sejarah, dan struktur ekonomi) dan subyektif (kesadaran, kesetiaan, dan kemauan) ada dalam diri etnik-etnik tersebut. Semangat kebangsaan itu lalu berfluktuatif dengan keadaan kondisi Indonesia dari masa ke masa (Pelly, 1998: 30-31).

B.Suku bangsa di Indonesia
Tiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat bisa menampilkan suatu corak khas yang terutama terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Seroang warga dari suatu kebudayaan hidup dari hari ke hari didalam lngkungan kebudayaannya biasanya tidak lagi melihat corak khas itu. Sebaliknya, terhadap kebudayaaan tetangganya, ia dapat melihat corak khasnya, terutama mengenai unsur-unsur yang berbeda menyolok dengan kebudayaannnya sendiri. Corak khas dari suatu kebudayaan bisa tampil karena kebudayaan itu menghasilkan suatu unsur yang kecil berupa satu unsur kebudayaan fisik dengan bentuk yang khusus; atau karena diantara pranata-pranatanya ada suatu pola sosial yang khusus; atau dapat juga karena warganya menganut suatu thema budaya yang khusus. Sebaliknya, corak khas tadi juga dapat disebabkan karena adanya kompleks unsur-unsur yang lebih besar. Berdasarkan atas corak khusus tadi, suatu kebudayaan dapat dibedakan dari kebudayaan yang lain.

Konsep yang tercakup dalam istilah sukubangsa adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan, dimana kesadaran dan identitas ini biasanya dikuatkan oleh kesatuan bahasa; kesatuan kebudayaan ini bukan suatu hal yang ditentukan oleh analisa fihak diluar kebudayaan itu sendiri melainkan oleh warga kebudayaan yang bersangkutan. Dengan demikian kebudayaan Bali merupakan suatu kesatuan, yang berbeda dengan kebudayaan Tengger, atau kebudayaan Jawa, atau kebudayaan Lombok, dimana orang-orang Bali sendiri sadar bahwa diantara mereka ada keseragaman pada kebudayaannya, yaitu kebudayaan Bali yang mempunyai kepribadian dan identitas khusus, berbeda dengan kebudayaan-kebudayaan tetangganya itu. Apalagi adanya bahasa Bali yang berbeda dengan bahasa-bahasa lain yang lebih memperkuat kesadaran akan kepribadian khusus tadi. Dalam istilah umum, konsep tentang sukubangsa ini disebut sebagai „ ethnic group‟ atau „kelompok etnik‟.

Perspektif Kebhinekaan Masyarakat Dan Kebudayaan Di Indonesia
Harsja Bactiar (1994) menggambarkan bahwa dalam istilah resmi dan untuk sejumlah kepentingan administratif praktis, pemerintah Indonesia membagi sukubangsa di Indonesia menjadi tiga golongan, ialah : 
  1. sukubangsa; 
  2. golongan keturunan asing; dan 
  3. masyarakat terasing. 

Semua sukubangsa memiliki daerah asal dalam wilayah Indonesia, sedangkan golongan keturunan asing tersebut dalam butir (2) tidak memilikinya karena daerah asal mereka terdapat diluar wilayah Indonesia (Cina, Arab, India, Eropa), atau karena keturunan percampuran (Indo-Eropa), dalam perkembangannya kemudian mereka dihadapkan pada dua alternatif, akan menjadi warga negara Indonesia dengan segala konsekuensinya, atau kembali ke negara asalnya dan tetap dianggap sebagai warga asing; kecuali orang keturunan Eropa, maka sukubangsa seperti keturunan Cina, Arab , dan India kemudian banyak yang menjadi warga negara Indonesia. Masyarakat terasing dianggap penduduk yang masih hidup dalam taraf kebudayaan sederhana, dan biasanya masih tinggal dalam lingkungan yang terisolasi.

Undang-undang Dasar 1945 mengakui perbedaan sukubangsa yang besar di antara penduduk Indonesia dan menjamin persamaan status bagi semua sukubangsa yang ada di negara ini, tanpa melihat besarnya penduduk masing-masing sukubangsa. Semua sukubangsa mempunyai hak yang sama untuk mengembangkan kebudayaan dan bahasa mereka masing-masing, membentuk pusat-pusat kebudayaan mereka sendiri, museum, dan lain-lain namun bahasa yang digunakan dalam pendidikan resmi adalah bahasa Indonesia, meskipun selama tiga tahun peertama bahasa daerah masih digunakan di sekolah.

A.Kebudayaan dalam perspektif Suku bangsa
Kebhinekaan etnolinguistik yang luas dari penduduk Indonesia dimulai sejak masa silam; Hildred Geertz (1981), seorang ahli Antropologi tentang Indonesia, menyatakan bahwa dari sekitar 300 sukubangsa yang ada di Indonesia, sekurangnya ada 250 bahasa daerah yang dipergunakan; Geertz membagi pengunaan bahasa daerah itu menjadi tiga klasifikasi, yaitu 
  1. kelompok keluarga bahasa Melayu Polinesia, yaitu bahasa-bahasa yang digunakan diseluruh kepulauan Indonesia Barat dan Tengah, 
  2. kelompok keluarga bahasa Halmahera Utara, dan 
  3. kelompok keluarga bahasa-bahasa Papua, termasuk didalamnya kelompok Ambon-Timor, Sula–Bacan, dan kelompok Halmahera selatan serta Papua. 

Pengaruh-pengaruh sejarah kebudayaan yang beraneka-warna yang selama berabad-abad dialami oleh penduduk nusantara ini di berbagai daerah, telah menambah keanekaragaman itu. Daerah-daerah tertentu telah dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan dari India, Persia, Arab, Cina, dan Eropa Barat, yang menyebabkan perubahan dasar dalam kebudayaan masyarakat yang telah beranekaragam itu, yang terdapat di berbagai daerah di kepulauan nusantara.

B.Kebudayaan dalam perspektif keturunan asing
Tidak seperti sukubangsa, penduduk yang termasuk sebagai golongan keturunan asing pada umumnya diharapkan dapat berasimilasi dengan sukubangsa di daerah tempat mereka berada atau sepenuhnya menganut kebudayaan nasional Indonesia. Kebudayaan nenek moyang mereka hanya untuk dianut dalam kehidupan pribadimereka. Orang Arab Indonesia dengan nyata telah mencapai asimilasi ini, dan mereka hanya dibedakan dari penduduk asli melalui ciri-ciri ras mereka, sedangkan orang India Indonesia dan orang Indo-Eropa sangat kecil dan tak penting jumlahnya, dan mereka terintegrasi atau menganut kebudayaan leluhurnya dalam pergaulan pribadi saja. Sebaliknya, orang keturunan Cina, pada umumnya hidup di daerah perkotaan dan mendominasi sektor ekonomi perkotaan masyarakat kota, sehingga mendudukan mereka pada kategori sosial yang sangat penting dalam masyarakat.

Dalam pada itu, mengikuti pengertian sukubangsa sebagaimana tersebut di atas, baik orang-orang Tionghoa yang datang terdahulu, ataupun mereka yang datang kemudian secara suka rela melalui media perdagangan, maupun yang didatangkan oleh kolonial Belanda yang maksudnya diperbantukan dalam sektor perdagangan, agaknya tidak bisa lagi dilihat sebagai kelompok luar masyarakat; keberadaan mereka di bumi Indonesia ini telah turun menurun untuk beberapa generasi, menganggap diri sebagai penduduk di negeri ini, memutuskan untuk kemudian menetap secara utuh dengan berusaha melebur dalam budaya Indonesia; walau masih ada ikatan-ikatan emosional dengan negeri leluhurnya, tercermin dalam beberapa unsur kebudayaan yang masih kuat melekat dalam kehidupannya, namun karena secara fisik tidak ada lagi hubungan-hubungan dengan tanah asal mereka atau orang-orang yang tinggal di sana, maka lambat laun orang-orang Tionghoa ini lebih mengakui sebagai bagian dari masyarakat Indonesia daripada masyarakat Tionghoa. Walaupun secara kuantitas (jumlah jiwa) sedikit, akan tetapi umumnya kedudukan mereka sangat kuat di sektor ekonomi dan sangat berpengaruh pada hubungannya dengan sukubangsa-sukubangsa lain di Indonesia , yang sebagai keseluruhan biasanya ditempatkan sebagai golongan pribumi.

C.Kebudayaan dalam perspektif masyarakat terasing
Masyarakat terasing merupakan golongan sukubangsa yang terisolasi yang masih hidup dari berburu, meramu atau berladang padi, keladi dan umbi-umbian dengan cara ladang berpindah, mereka membuka hutan melalui penggunaan teknik peladangan bakar. Biasanya mereka terhambat dari perubahan dan kemajuan karena isolasi geografi mereka, namun kadang-kadang juga karena upaya-upaya mereaka sendiri yang disengaja, untuk menolak bentuk perubahan kebudayaan apapun, seperti halnya orang Baduy di Banten. 

Banyak warga masyarakat terasing kini mulai mengintegrasikan diri mereka dalam kebudayaan nasional Indonesia, dan kebudayaan tradisional mereka menghilang dengan cepat. Koentjaraningrat (1993) mengemukakan beberapa golongan masyarakat terasing yang masih tinggal adalah : 
  1. orang laut yang bersifat pengembara, sebagaimana yang tercatat dalam karangan-karangan etnografi; 
  2. Orang Darat, yang hidup tersebar di daerah dataran rendah berawa di Sumatra Timur hingga ke kaki Bukit Barisan di pedalaman; 
  3. Penduduk kepulauan Mentawai, pulau-pulau di sebelah Sumatra Barat; 
  4. Orang Baduy di Banten Selatan, Jawa Barat; 
  5. Orang Donggo, di bagian pedalaman pegunungan Sumbawa Timur; 
  6. kelompok pengembara orang Punan (atau Penan) yang berpindah-pindah di sepanjang hulu sungai-sungai besar di Kalimantan; 
  7. Orang Tajio, di Sulawesi Tengah; 
  8. Orang Amma Toa di Sulawesi Tenggara; 
  9. Orang Togutil di Halmahera Utara, dan 
  10. penduduk lembah-lembah pegunungan Tengah di Irian Jaya serta mereka yang hidup di hulu-hulu beberapa buah sungai besar
D.Kebudayaan dalam perspektif hukum adat
Seorang sarjana Belanda C. Van Vollenhoven (1948) membedakan kebudayaan sukubangsa Indonesia berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat dari masing-masing sukubangsa yang tersebar di Indonesia; Van Vollenhoven membagi lingkaran-lingkaran itu ke dalam 19 daerah hukum adat, yaitu yang meliputi : Aceh, Gayo-Alas dan Batak (termasuk Nias dan Batu), Minangkabau (termasuk Mentawai), Sumatera Selatan (termasuk Enggano), Melayu, Bangka dan Biliton, Kalimantan (termasuk Sangir-Talaud) Gorontalo, Toraja, Sulawesi Selatan, Ternate, Ambon Maluku (termasuk kepulauan Barat Daya), Irian, Timor, Bali dan Lombok, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Surakarta dan Yogyakarta, dan Jawa Barat.

E.Kebudayaan menurut kompleksitas : desa – kota
Persebaran masyarakat di Indonesia sangat beragam, namun sekurangnya ada dua bentuk masyarakat menurut perkembangan budaya yang ada; bentuk pertama adalah tipe masyarakat dengan intensitas interkasi yang terbuka sehingga memudahkan mereka untuk mengembanngkan kebudayaannya, yang termasuk dalam tipe ini adalah masyarakat perkotaan, juga disebut juga sebagai masyarakat kompleks dan modern, serta cenderung heterogen; bentuk kedua adalah tipe masyarakat yang relatif terisolasi sehingga intensitas interaksi dengan masyarakat lain cenderung kurang bahkan sangat terbatas, yang termasuk dalam tipe ini adalah masyarakat pemburu dan peramu (tribe) dan masyarakat pedesaan, yang juga disebut sebagai masayarakat sederhana dan tradisional, dan kehidupannya cederung homogen (Boelaars, 1984).

kedua bentuk masyarakat ini sebenarnya adalah satu rumpun budaya, namun karena ada karakteristik tertentu yang berbeda dari kedua persekutuan hidup ini sehingga masing-masing dibedakan menurut kebudayaannya. Perbedaan itu adalah sebagai suatu keadaan tentang bagaimana masing-masing mereka mensikapi alam sekitarnya, dan dari perbedaan ini kemudian memberikan pengaruh terhadap seperangkat aspek kehidupan yang lain. Masyarakat modern tidak menggunakan alam sebagai dasar penghidupannya, sehingga mereka tidak tergantung pada alam, sedangkan masyarakat tradisional menggunakan alam sebagai dasar penghidupannya sehingga mereka sangat tergantung pada alam sekitar tempat hidupnya.

Kebudayaan Indonesia : Kebudayaan Nasional
Sejak tahun 1945, Indonesia beserta seluruh penduduknya telah menyatakan diri dan diakui oleh hampir seluruh Negara yang ada di dunia sebagai suatu Negara yang merdeka dan berkedaulatan; tahun 1945 sebenarnya adalah proses kesinambungan dari tahun-tahun sebelumnya yang dimulai dari berbagai pemikiran dan pergerakan sebelum tahun 1928 yang secara resmi seluruh penduduk pribumi Indonesia menyatakan diri sebagai satu bangsa : bangsa Indonesia; satu tanah air : tanah air Indonesia; satu bahasa : bahasa Indonesia, yang semuanya dituangkan dalam kesepakatan para pemuda Indonesia pada saat itu : Sumpah Pemuda. Pernyataan diri ini secara tersirat mengandung pengertian bahwa pada saat itu mulai timbul benih-benih kesepakatan hidup bersama dari segenap masyarakat pribumi untuk mengacu pada satu nilai-nilai yang sama yang dalam konteks ini disebut sebagai kebudayaan – kebudayaan bersama, kebudayaan nasional.

Pada saat-saat menjelang kemerdekaan, keinginan untuk merdeka dari penguasaan orang asing (Belanda) dan hak untuk menentukan nasibnya sendiri sedemikian kuat, sampai-sampai segenap orang seolah melupakan perbedaan yang tajam diantara mereka apakah itu latar belakang budaya (kelompok etnik), agama, ras, golongan dan perbedaan lain yang dalam keadaan normal sebenarnya sangat potensil sebagai sumber pertentangan. Setelah kemerdekaan, semangat untuk menjungjung nilai-nilai persatuan dan kesatuan dijadikan modal dasar dalam menggalang kehidupan bersama dan bernegara, hanya saja sekarang tujuannya tidak lagi membebaskan diri dari cengkraman penjajahan asing melainkan meneruskan cita-cita perjuangan untuk menjadi Negara dan bangsa Indonesia yang kuat dan besar sesuai dengan nilai-nilai hakiki seperti yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

Konsep tentang kebudayaan Indonesia yang kemudian diperjelas menjadi kebudayaan nasional (Indonesia) atau kebudayaan bangsa bukan merupakan pembahasan baru dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia. Pada tahun 1930 para intelektual dan pemerhati sosial di Indonesia telah mulai berembuk dan berusaha menemukan konsep yang paling tetap untuk kebudayaan nasional ini; keajegan konsep kebudayaan nasional ini dianggap penting karena selain didalamnya termuat berbagai pedoman nilai juga mencerminkan simbol identitas bangsa, sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 sebagai berikut :

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 32 menyatakan bahwa Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Selanjutnya, penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

dan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dinyatakan sebagai :

Sebagai perwujudan pembangunan berwawasan nusantara, Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 mengamanatkan bahwa bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dengan latar belakang berbagai bahasa dan kebudayaan daerah serta memeluk dan meyakini berbagai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan satu kesatuan bangsa yang bulat dalam arti seluas-luasnya. Selanjutnya, diamanatkan pula bahwa budaya bangsa pada hakikatnya satu, sedangkan corak ragam budaya menggambarkan kekayaan budaya bangsa yang merupakan modal dan landasan pengembangan budaya bangsa seluruhnya dengan tidak menolak nilai-nilai budaya lain yang tidak bertentangan dengan nilai budaya bangsa yang hasil-hasilnya dapat dinikmati oleh bangsa. Budaya bangsa Indonesia yang dinamis yang telah berkembang sepanjang sejarah bangsa serta bercirikan kebhinnekaan dan keekaan bangsa merupakan modal dasar bagi pembangunan nasional.

Untuk merumuskan konsep tentang kebudayaan nasional dari masyarakat Indonesia yang sangat beragam ini bukanlah hal yang mudah. Berbagai perumusan dan pendapat tentang konsep kebudayaan nasional kemudian muncul dan menimbulkan polemik; untuk lebih mempermudah penggambaran kebudayaan nasional ini maka kerangka berpikir kebudayaan dapat dianalisa menurut alur substansi, orientasi, dan fungsi mungkin bisa dijadikan sebagai dasar acuan.

Substansi
Dalam hal ini kebudayaan nasional dilihat dari segi isi kebudayaan itu sendiri, yang menurut beberapa pemerhati kebudayaan dinyatakan sebagai berikut :
  • Poerbatjaraka, menganjurkan agar orang Indonesia banyak mempelajari sejarah kebudayaannya, agar dapat membangun kebudayaan yang baru. Kebudayaan Indonesia baru itu harus berakar kepada kebudayaan Indonesia sendiri atau kebudayaan pra-Indonesia
  • Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahawa kebudayaan nasional Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah.
Orientasi
Dalam perspektif orientasi budaya, dimaksudkan bahwa budaya nasional itu mencirikan satu arah tujuan bangsa Indonesia yang jelas, para pemerhati kebudayaaan dengan buah pikir dari perspektif orientasi ini antara lain :
  • Alisyahbana, menyatakan bahwa Kebudayaan Nasional Indonesia merupakan suatu kebudayaan yang dikreasikan, yang baru sama sekali, dengan mengambil banyak unsur dari kebudayaan yang kini dianggap paling universal, iaitu budaya Barat. Unsur yang diambil terutama adalah teknologi, orientasi ekonomi, organisasi, dan sains. Begitu juga orang Indonesia harus mempertajam rasio akalnya dan mengambil dinamika budaya Barat. Pandangan ini mendapat sanggahan sengit dari beberapa pemikir lainnya.
  • Sanusi Pane, salah seorang yang menentang keras buah fikir dari Alisyahbana, Pane menyatakan bahwa kebudayaan Nasional Indonesia sebagai kebudayaan Timur harus mementingkan aspek kerohanian, perasaan dan gotong-royong, yang bertentangan dengan kebudayaan Barat yang terlalu berorientasi kepada materi, intelektualisme dan individualisme.
  • Adinegoro, mengajukan sebuah gagasan yang lebih moderat, yaitu agar pendidikan nasional Indonesia didasarkan pada kebudayaan nasional Indonesia, sedangkan kebudayaannya harus memiliki inti dan pokok yang bersifat kultur nasional Indonesia, tetapi dengan kulit (peradaban) yang bersifat kebudayaan Barat.
Fungsi
Dalam perspektif fungsi dimaksudkan sebagai usaha untuk menggambarkan suatu kerangka budaya nasional dari pendekatan fungsi kebudayaan itu sendiri bagi bangsa Indonesia; tokoh yang berusaha mengemas konsep kebudayaan menurut pendekatan fungsi dan buah pikirannya adalah :
  • Koentjaraningrat, menyebutkan bahwa kebudayaan nasional Indonesia sekurangnya harus memiliki dua fungsi: 
  1. sebagai suatu sistem gagasan dan pralambang yang memberi identitas kepada warga negara Indonesia dan 
  2. sebagai suatu sistem gagasan dan pralambang yang dapat dipergunakan oleh semua warga negara Indonesia yang bhinneka itu, untuk saling berkomunikasi, sehingga memperkuat solidaritas. Dalam fungsinya yang pertama, kebudayaan nasional Indonesia memiliki tiga syarat: 
  • (a) harus merupakan hasil karya warga negara Indonesia, atau hasil karya orang-orang zaman dahulu yang berasal dari daerah-daerah yang sekarang merupakan wilayah negara Indonesia; 
  • (b) unsur itu harus merupakan hasil karya warga negara Indonesia yang tema pikirannya atau wujudnya mengandung ciri-ciri khas Indonesia; dan 
  • (c) harus sebagai hasil karya warga negara Indonesia lainnya yang dapat menjadi kebanggaan mereka semua, sehingga mereka mau mengidentitikan diri dengan kebudayaan itu. 

Dalam fungsi kedua, harus ada tiga syarat yaitu dua di antaranya sama dengan syarat nomor satu dan dua fungsi pertama, syarat nomor tiga yaitu harus sebagai hasil karya dan tingkah laku warga negara Indonesia yang dapat difahami oleh sebahagian besar orang Indonesia yang berasal dari kebudayaan suku-suku bangsa, umat agama, dan ciri keturunan ras yang aneka warna, sehingga menjadi gagasan kolektif dan unsur-unsurnya dapat berfungsi sebagai wahana komunikasi dan sarana untuk menumbuhkan saling pengertian di antara aneka warna orang Indonesia, dan mempertingi solidariti bangsa.

Kebudayaan nasional Indonesia adalah semua yang dikategorikan sistem nasional apakah itu Kebudayaan nasional Indonesia adalah semua yang dikategorikan sistem nasional apakah itu berbentuk gagasan kolektif, berbentuk material seperti sistem pendidikan, sistem politik, sistem hukum, dan sistem lainnya dan berbentuk perilaku seperti menghargai kemajemukan, atau pluralitas, menunjung hak dan kewajiban adalah kebudayaan nasional Indonesia. Brahmana (1997) berusaha menuangkan gagasan tentang konsep kebudayaan Indonesia menurut dua pendekatan wujud kebudayaan, yaitu sebagai wujud idea dan sebagai wujud material.

Berdasarkan wujud ide definisi kebudayaan adalah semua pola atau cara berfikir/merasa bangsa dalam suatu ruangan dan waktu. Pengertian ini dikembangkan ke dalam kebudayaan Indonesia menjadi Kebudayaan Nasional Indonesia semua pola atau cara berfikir/merasa bangsa Indonesia yang sama terhadap kelangsungan hidupnya di dalam sebuah negara. Berdasarkan definisi di atas, definisi Kebudayaan Nasional Indonesia berdasarkan sisi ide dapat dijelaskan semua pola atau cara berfikir/merasa bangsa Indonesia dalam suatu ruangan dan waktu. Pola atau cara berfikir/merasa ini dapat dimulai sesudah adanya Sumpah Pemuda (1928) atau sesudah Indonesia Merdeka (1945) hingga saat ini. Pilihan angka tahun ini (1928) karena, pada masa ini sudah tumbuh keinginan untuk bersatu (cara berfikir/merasa yang seragam untuk mencapai cita-cita atau tujuan bersama) ke dalam sebuah negara. Keinginan ini kemudian wujudkan pada tahun 1945 (kemerdekaan Indonesia).

Sedangkan kebudayaan nasional Indonesia berdasarkan wujud material adalah produk dari suatu bangsa dalam suatu ruangan dan waktu. Misalnya semua produk bangsa Indonesia baik yang dikembangkan di luar negeri, maupun yang dikembangkan di dalam negeri, yang tumbuh dan berkembang sejak Indonesia Indonesia merdeka (1945) atau sesudah Sumpah Pemuda (1928) hingga saat ini, apakah itu yang diserap dari kebudayaan etnik maupun kebudayaan asing, baik melalui proses difusi, akulturasi yang disepakati menjadi bagian dari alat mencapai tujuan nasional bersama di dalam negara kesatuan RI. Darimana asal kebudayaan ini tidak dipersoalkan, selagi bentuk kebudayaan yang diserap itu mampu mempersatukan dan mempererat persatuan dan kesatuan, itulah Kebudayaan Nasional Indonesia.


Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini

Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini meliputi:

1.Pengembangan Pembiasaan


  • Merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan ada dalam kehidupan sehari-hari anak sehingga menjadi kebiasaan yang baik 
  • meliputi aspek perkembangan moral dan nilai-nilai agama, serta pengembangan sosial, emosional, dan kemandirian 
  • dilakukan dengan cara: 

a.Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan setiap hari
b.Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan
c.Kegiatan teladan adalah kegiatan yang dilakukan dengan memberi contoh yang baik kepada anak d.Kegiatan terprogram adalah kegiatan yang direncanakan dalam kegiatan pembelajaran

2.Pengembangan Kemampuan Dasar

  • Merupakan kegiatan yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas anak sesuai dengan tahap perkembangannya 
  • pelaksanaannya dengan diprogramkan dalam perencanaan semester, mingguan dan harian (SKM & SKH) 
  • meliputi aspek perkembangan: 

a. Berbahasa
b. Kognitif
c. Fisik/Motorik
d. Seni


ASAS-ASAS PEMBELAJARAN PAUD 

1. Asas Apersepsi Pembelajaran dengan memperhatikan pengetahuan dan pengalaman awal/sebelumnya yang dimiliki anak agar hasil belajar optimal

2. Asas Kekongkritan Pembelajaran dg menggunakan berbagai media dan sumber belajar nyata agar pembelajaran menjadi bermakna

3. Asas Motivasi Pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kebutuhan, minat dan kemauan anak agar anak memiliki dorongan untuk belajar.

4. Asas Kemandirian Pembelajaran yg dirancang untuk mengembangkan kemandirian anak dan memecahkan masalah yg dihadapinya

5. Asas Kerjasama (Kooperatif) Pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan sosial anak melalui bekerja sama

6. Asas Individualisasi Pembelajaran yang dirancang dg memperhatikan perbedaan individu

7. Asas Korelasi Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan antara aspek pengembangan satu dengan lainnya saling berkaitan/terpadu

8. Asas Belajar Sepanjang Hayat Pembelajaran yang dirancang untuk membekali anak agar bisa belajar sepanjang hayat dan mendorong anak selalu ingin dan berusaha belajar kapanpun dan dimana pun


PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PAUD 

1. Pengaturan Ruangan Kelas 
Beberapa hal yg perlu diperhatikan:


  • susunan meja kursi bersifat fleksibel & dpt berubah-ubah 
  • Pada waktu kegiatan tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet 
  • Penyediaan alat bermain/sumber belajar harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan
  • Pengelompokkan meja disesuaikan dengan kebutuhan sehingga cukup ruang gerak bagi anak didik
  • Dinding dpt digunakan utk menempelkan hasil karya anak 
  • Peletakan dan penyimpanan alat bermain/sumber belajar diatur sesuai dengan fungsinya 


2. Pengorganisasian Anak Didik 
Dapat dilaksanakan dalam bentuk:

a. Kegiatan klasikal 
Kegiatan yang dilakukan oleh seluruh anak dalam satu kelas, dalam satu satuan waktu dengan kegiatan yang sama. Misalnya: kegiatan awal dan akhir dengan menggunakan metode menyanyi, bercakapcakap, bercerita, dll

b. Kegiatan kelompok 
Dalam satu satuan waktu tertentu terdapat beberapa kelompok anak melakukan kegiatan yang berbeda-beda. Misalnya: biasanya dilaksanakan pada kegiatan inti, dimana terdapat beberapa kegiatan dan antar kelompok melakukan kegiatan yang berbeda

c. Kegiatan individual 
Setiap anak dimungkinkan memilih kegiatan sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Misalnya: anak yang senang membaca, memilih area membaca dan menulis.


3. Pengaturan Alat/Sumber Belajar 
Dibedakan menjadi 2 kelompok:

• Alat/sumber belajar di dalam ruangan/kelas

  1. Pembelajaran Kelompok dengan Kegiatan Pengaman 
  2. Pembelajaran Kelompok dengan Sudut-sudut Kegiatan 
  3. Pembelajaran berdasarkan minat 


• Alat/sumber belajar di luar ruangan/kelas
Alat permainan untuk memupuk perkembangan motorik, intelektual, sosial dan emosional. Misalnya jungkitan, ayunan, papan peluncur, papan titian, bak pasir/air dg perlengkapannya, bola besar/kecil, alat pertukangan, kebun/tanaman, binatang peliharaan, taman lalu lintas & kendaraannya, jala panjatan, dll

LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Landasan Yuridis Pendidikan Anak Usia Dini 
Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya”.

Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”


Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia Dini 
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang “baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan pendidikan.

Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan. Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya Sehubungan dengan pandangan filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.

Landasan Keilmuan Pendidikan Anak Usia Dini 
Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa displin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi serta neuro sains atau ilmu tentang perkembangan otak manusia (Yulianai Nurani Sujiono, 2009: 10).

Berdasarkan tinjauan secara psikologi dan ilmu pendidikan, masa usia dini merupakan masa peletak dasar atau fondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Apa yang diterima anak pada masa usia dini, apakah itu makanan, minuman, serta stimulasi dari lingkungannya memberikan kontribusi yang sangat besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa itu dan berpengaruh besar pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Dari segi empiris banyak sekali penelitian yang menyimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting, karena pada waktu manusia dilahirkan, menurut Clark (dalam Yuliani Nurani Sujono, 2009) kelengkapan organisasi otaknya mencapai 100 – 200 milyard sel otak yang siap dikembangkan dan diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan optimal, tetapi hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang terpakai karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak.


TUJUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 
Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Secara khusus tujuan pendidikan anaka usia dini adalah (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 42 – 43):

1. Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta mencintai sesamanya.
2. Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima rangsangan sensorik.
3. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat untuk berpikir dan belajar.
4. Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.
5. Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta mampu mngembangkan konsep diri yang positif dan control diri.
6. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta menghargai karya kreatif.


PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 
Pendidikan anak usia dini pelaksanaannya menggunakan prinsip-prinsip (Forum PAUD, 2007) sebagai berikut.

Berorientasi pada Kebutuhan Anak 
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

Belajar melalui bermain 
Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

Menggunakan lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.

Menggunakan pembelajaran terpadu 
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.

Mengembangkan berbagai kecakapan hidup 
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.

Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar 
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.

Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar 
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang.

Pendidikan Anak Usia Dini

PENGERTIAN ANAK USIA DINI 

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang Pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.

  1. Anak bersifat unik. 
  2. Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan. 
  3. Anak bersifat aktif dan enerjik. 
  4. Anak itu egosentris. 
  5. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal. 
  6. Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang. 
  7. Anak umumnya kaya dengan fantasi. 
  8. Anak masih mudah frustrasi. 
  9. Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak. 
  10. Anak memiliki daya perhatian yang pendek. 
  11. Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial. 
  12. Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.

Jalur Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini 
Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional) Bab I Pasal 1 Ayat 14). 

Dalam pasal 28 ayat 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudathul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat.


Satuan Pendidikan Anak Usia Dini 
Satuan pendidikan anak usia dini merupakan institusi pendidikan anak usia dini yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia lahir sampai dengan 6 tahun. Di Indonesia ada beberapa lembaga pendidikan anak usia dini yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat luas, yaitu: 

Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudhatul Atfal (RA) 
TK merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun, yang terbagi menjadi 2 kelompok : Kelompok A untuk anak usia 4 – 5 tahun dan Kelompok B untuk anak usia 5 – 6 tahun. 

Kelompok Bermain (Play Group) 
Kelompok bermain berupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 23) 

Taman Penitipan Anak (TPA) 
Taman penitipan anak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun. TPA adalah wahana pendidikan dan pembainaan kesejahteraan anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu selama orang tuanya berhalangan atau tidak memiliki waktu yang cukup dalam mengasuh anaknya karena bekerja atau sebab lain (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 24).



Hak Asasi Manusia

Konsep Hak Asasi Manusia

• Ciri-ciri HAM: - tidak perlu diberikan, dibeli atau diwarisi; -berlaku untuk semua orang tanpa membedakan jenis kelamin, ras, agama, pandangan politik, asal-usul sosial atau bangsa; - tidak bisa dilanggar.

• Perkembangan (Barat):


  • Magna Charta Libertatum (1215 di Inggris)  melawan kekuasan mutlak raja, melarang penahanan, penghukuman, dan perampasan benda secara sewenang-wenang. 
  • Habeas Corpus (1679)  dokumen peradaban hukum, orang yang ditahan harus dihadapkan dalam waktu 3 hari kepada seorang hakim dan diberitahu atas tuduhan apa ia ditahan.
  • Bill of Rights (1689)  hak hak parlemen di Inggris
  • D√©claration des droits des hommes et de citoyen  pernyataan hak-hak asasi manusia dan warga negara dari Revolusi Perancis 1789 mengenalkan prinsip liberte, egalite, fraterniti.

Konvensi Hak Asasi Manusia


  • Konvensi HAM internasional  perjanjian internasional yang memberikan standar tingkah laku bagi tiap-tiap pemerintahan suatu negara untuk melaksanakan PERJANJIAN (AGREEMENT), KOVENAN, atau PAKTA tentang HAM.
  • Era Liga Bangsa-bangsa  Konvensi Perbudakan (1926)
  • Era Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)  Deklarasi Universal HAM (DUHAM) 1948, bersifat tidak mengikat
  • Kovenan Internasional: (1) Kovenan internasional tentang hak sipil dan politik; (2) kovenan internasional tentang hak ekonomi, sosial dan budaya (1966). Mengikat bagi negara - negara yg telah meratifikasinya. Kedua dokumen ini dikenal sebagai International Bill of Human Rights.


Konsep Hak Asasi Manusia

  • Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB (Universal Declaration of Human Rights, 10 Desember 1948) 
  • Kovenan internasional tentang hak sipil dan politik, kovenan internasional tentang hak ekonomi, sosial dan budaya (1966)
  • Konvensi internasional tentang hak-hak khusus (1976)
  • Konvensi hak-hak politik perempuan (UU No. 68 Tahun 1958)
  • Konvensi tentang Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW, 1979  UU No. 7 tahun 1984)
  • Konvensi tentang Hak-hak Anak
  • Konvensi anti-apartheid dalam Olahraga
  • Vienna Declaration (1993)
  • Konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang lain yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia
  • Konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial
• Empat kelompok HAM
  1. Hak-hak asasi Negatif (Liberal): melindungi kehidupan pribadi manusia terhadap campur tangan negara dan kekuatan sosial lainnya
  2. Hak-hak asasi Aktif (Demokrasi): keyakinan akan kedaulatan, hak rakyat memerintah diri sendiri
  3. Hak-hak asasi positif : menuntut prestasi negara berupa pelayanan publik
  4. Hak-hak asasi Sosial: perluasan paham kewajiban negara

Universal Declaration of Human Rights 1948
Article 1
All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood.

Article 2
Everyone is entitled to all the rights and freedoms set forth in this Declaration, without distinction of any kind, such as  race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status.  Furthermore, no distinction shall be made on the basis of the political, jurisdictional or international status of the  country or territory to which a person belongs, whether it be independent, trust, non-self-governing or under any other limitation of sovereignty.

Article 3
Everyone has the right to life, liberty and security of person.

Article 4
No one shall be held in slavery or servitude; slavery and the slave trade shall be prohibited in all their forms.

Article 5
No one shall be subjected to torture or to cruel, inhuman or degrading treatment or punishment.

Article 6
Everyone has the right to recognition everywhere as a person before the law.

Article 7
All are equal before the law and are entitled without any discrimination to equal protection of the law. All are entitled  to equal protection against any discrimination in violation of this Declaration and against any incitement to such discrimination.

Article 8
Everyone has the right to an effective remedy by the competent national tribunals for acts violating the fundamental rights granted him by the constitution or by law.

Article 9
No one shall be subjected to arbitrary arrest, detention or exile.

Article 10
Everyone is entitled in full equality to a fair and public hearing by an independent and impartial tribunal, in the 
determination of his rights and obligations and of any criminal charge against him.

Article 11
  1. Everyone charged with a penal offence has the right to be presumed innocent until proved guilty according to law in a public trial at which he has had all the guarantees necessary for his defence.
  2. No one shall be held guilty of any penal offence on account of any act or omission which did not constitute a penal offence, under national or international law, at the time when it was committed. Nor shall a heavier penalty be imposed than the one that was applicable at the time the penal offence was committed

Tentang Bunga dan Manfaatnya

Mawar

Definisi umum: mawar adalah sebuah bunga yang sangat indah dan banyak digemari para pecinta bunga

Deskripsi bagian: mawar memiliki warna yg berbagai macam ad yg merah ,ad yg warna putih dsb//mawar memiliki harum yg semerbak yg dapat menarik perhatian manusia

Deskripsi manfaat: bunga mawar adalah bunga yg sangat indah dengan keindahanya dapat menghibur hati dan sebagian besar masyarakat ad yg menjadikan mawar sebagai obat



Melati
Definisi Bagian : Bunga memiliki daun,mahkota,putik,benang sari,biji,serbuk sari.mempunyai stomata di daun untuk bernafas.  
  
Definisi Fungsi : Sesak Nafas, Radang Usus, Radang Ginjal, Demam dan Sakit Kepala, Hentikan Produksi ASI Berlebihan

Definisi Umum  : Arti Bunga Melati adalah Lambang Kesucian karena identik dengan warna bunga melati yang putih. Wangi bunga melati juga sangat harum, lembut dan menyenangkan


Bougenfil
Definisi Pengertian : Bunga Bougenville memiliki nama ilmiah Bougainvillea, terutama B. glabra. Bunga ini bentuknya kecil dan sukar tumbuh tega. Keindahanya terpancar dari bunganya yang berwarna cerah dan juga menarik perhatian mata yang melihatnya.

Definisi Fungsi : untuk dandanan rambut wanita, campuran bunga untuk mandian pewangi, dan sebagai kegunaan di upacara pemakaman bagi kaum Cina dan India


Lidah Buaya
Liday Buaya Ciri-cirinya biasa hidup di tempat yang memiliki suhu panas atau baiasa di tanam di dalam pot ataupun di pekarang rumah untuk dijadikan tanaman hias. Daunnya agak runcing berupa taji, tidak tipis, getas, pinggirnya bergerigi/ berduri kecil, permukaannya berbintik-bintik, panjangnya mencapai 15-36 cm, lebar 2-6 cm, bunga bertangkai yang panjangnya mencapai 60-90 cm, bunga berwarna kuning kemerahan ( jingga ).

Banyak di Afrika sisi Utara, Hindia Barat.
untuk Obat cacing, Penyembuh Luka bakar, Obat Bisul, Luka bernanah, Amandel, Sakit mata, Keseleo dan, Kosmetik, serta Jerawat

Kaktus
Kaktus Sebagai Memurnikan Air, Kaktus Sebagai Bahan Makanan, Kaktus Beguna Untuk Pengobatan, Kaktus Sebagai Penangkal Radikal Bebas
Mampu tumbuh tanpa air dengan waktu yang cukup lama, sehingga kaktus bisa kita temukan pada daerah yang kering, seperti gurun.

Kaktus memiliki akar yang panjang untuk mencari air dan memperlebar penyerapan air dalam tanah. Air yang diserap kaktus disimpan dalam ruang di batangnya. Kaktus juga memiliki daun yang berubah bentuk menjadi duri sehingga dapat mengurangi penguapan air lewat daun.

Kuping Gajah
Tanaman kuping gajah hidup di dataran rendah (0 m dpl.), sampai ke dataran tinggi 2000 m dpl. Tanaman ini memerlukan kelembaban yang tinggi untuk hidup dengan sinar matahari 50%. Tanaman kuping gajah merupakan jenis tumbuhan semak, batangnya berdiri tegak. Bentuk daunnya tunggal, duduk dalam roset akar, berpelepah, lonjong, panjang 25 – 30 cm, lebar 15 - 20 cm, pertulangan menyirip, tulang daun keputih-putihan, hijau.Bentuk bunganya Majemuk, berkelamin dua, di ujung batang, kelopak bulat, halus warnanya merah umumnya kadang juga ada yang berwarna lain, kepala sari kuning, mahkota kuning.
                                                                  
Berkhasiat sebagai obat bengkak pada tenggorokan dan mulut. 


strawberry
Strawberry merupakan buah yang sangat baik untuk kesehatan tubuh, dengan warna yang merah menggoda dan bentuknya yang sangat menarik. Strawberry memiliki letak biji yang cukup unik yaitu di permukaan buah.

Anti kanker, Kesehatan mata, Kesehatan jantung, Anti inflamasi, Diet sehat, Meningkatkan sistem imun, Kesehatan otak, Kesehatan ibu hamil, Kesehatan kulit, Mencegah tekanan darah tinggi, Mencegah anemia, Kesehatan pencernaan, Suasana hati, Kesehatan tulang.

Delima
Bentuk pohon perdu atau pohon kecil dengan tinggi 2–5 m. Batang berkayu, ranting bersegi, percabangan banyak, lemah, berduri pada ketiak daunnya, cokelat ketika masih muda, dan hijau kotor setelah tua. Daun tunggal, bertangkai pendek, letaknya berkelompok. Helaian daun bentuknya lonjong sampai lanset, pangkal lancip, ujung tumpul, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan mengkilap, panjang 1–9 cm, lebar 0,5–2,5 cm, warnanya hijau. Buahnya buah buni, bentuknya bulat dengan diameter 5–12 cm,

Susah kencing, Sariawan, Batuk sudah berlangsung lama, Suara serak, tenggorokan kering, Cacingan, 

Naga Merah
Manfaat buah naga merah adalah untuk menjaga kesehatan tubuh terutama tulang dan gigi. Ini karena buah naga mengandung kalsium dan fosfor yang sangat baik untuk kesehatan tulang dan gigi. Dengan mengkonsumsi buah naga secara teratur, kita bisa bebas dari masalah gigi keropos dan osteoporosis. Selain itu, buah naga merah juga berkhasiat untuk mencegah diabetes mellitus.
1.   Meningkatkan nafsu makan
2.   Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
3.   Menghambat penuaan dini
4.   Mencegah kanker
5.   Menurunkan kadar kolestrol
6.   Memperkuat tulang dan gigi
7.   Mencegah diabetes melitus
8.   Merawat kesehatan mata
9.   Merawat jantung agar tetap sehat
1        10.Merawat kesehatan kulit
f





 

Serba Ada Blog Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger